Kamis, 23 Juli 2009

Keunggulan Alquran di Depan Sains

alquran Judul buku: Menyibak Rahasia Sains
Bumi Dalam Alquran
Penulis: Ir Agus Haryo Sudarmojo
Penerbit: Mizania
Cetakan: I, November 2008
Tebal: xv+234 hlm

Islam bukan hanya ajaran agama, tetapi Islam juga merupakan sebuah jalan menuju hidup harmonis yang secara terpadu mampu menghadapi tiga dimensi kehidupan: dimensi alam fana, barzakh, dan akhirat.
Jika kita melihat dari sudut pandang sains dan teknologi, maka sudah bukan rahasia lagi bahwa di dalamnya termuat penjelasan tentang materi, energi dan informasi. Islam secara terpadu dapat mengungkapkan kejadian-kejadian bertema sains maupun teori sains mutakhir. Semua informasi tersebut dapat kita temukan di dalam Alquran yang merupakan kitab suci umat Islam. Meski demikian, Alquran tidak dapat disebut sebagai sebuah buku pelajaran sains. Tetapi, Alquran merupakan penuntun bagi umat manusia dalam mengarungi ketiga dimensi kehidupan di atas.
Para ilmuwan yang telah bersentuhan dengan Alquran mengungkapkan bahwa Alquran is always one step ahead of science. Ungkapan tersebut dapat diartikan bahwa penjelasan-penjelasan Alquran selalu selangkah lebih maju dibanding penemuan-penemuan sain modern. Setiap penemuan hebat pada abad-abad kontemporer terrnyata sudah dijelaskan oleh Alquran sejak abad ketujuh silam.
Fakta-fakta tersebut bisa kita baca di buku ini. Sebuah buku yang akan menyadarkan kita betapa Alquran merupakan suatu himpunan informasi tentang masa lalu, masa kini sekaligus masa depan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Betapa Alquran selalu unggul di depan sains.
Penulis menegaskan, Alquran banyak berisi ayat-ayat mutasyabihat yang menjelaskan mengenai sains. Ada yang tersirat secara jelas maupun tersamar di dalamnya. Oleh karena itu, pemahaman makna yang terkandung dalam ayat-ayat mutasyabihat tidak dapat dijadikan dasar hukum, tetapi dapat diletakkan sebagai sumber inspirasi ilmiah.

Penulis selalu meletakkan Alquran sebagai sumber rujukan utama. Adapun sumber rujukan kedua adalah hadits-hadits sahih dan syarahnya, kemudian penemuan-penemuan sains modern menjadi rujukan ketiga. Setelah itu, barulah penulis menggunakan akal pikiran (logika).
Penulis menegaskan, bahasa Alquran mudah dipahami oleh seluruh lapisan masayarakat, penggembala kambing hingga pakar sains. Semua orang mampu memahami Alquran sesuai dengan tingkat intelektual dan bahasa komunitasnya masing-masing. Dengan demikian, ayat-ayat sains akan lebih tergali maknanya jika direnungkan oleh masyarakat sains.
Dalam buku ini, penulis mencoba mengulas tentang Planet Bumi sejak penciptaannya hingga mencapai keadaan seperti sekarang ini. Penulis berusaha menjelaskan proses penciptaannya, asal-usul pelbagai materi pendukung kehidupannya, dan hal-hal lain yang telah disebutkan oleh ayat-ayat Alquran. Buku ini juga merupakan pengejawantahan atas permintaan khalayak karena sebagian besar uraiannya merupakan hasil diskusi pada majelis-majelis ta’lim. Semua itu diuraikan dalam 17 fakta penting mengenai bumi, misalnya bumi pernah berpadu dengan langit, dan ternyata bumi sepertiga umur langit.
Fakta lain yang diungkapkan, misalnya bumi ditahan agar tidak lenyap, bumi unik di jagat raya, besinya dari langit, bumi seperti permadani yang dihamparkan. Penulis juga mengupas daratan dan lautan, gerakan yang menakjubkan seperti awan, bumi pernah mati kemudian bersendawa, dan gunung es jatuh dari langit.
Fakta lain yang tidak kalah menariknya adalah air memahami ucapan manusia, bumi bangkit dari kematiannya, munculnya tujuh lapis langit bumi, gumpalan dari langit, dan tujuh tugas pasaknya. Semua itu diperkuat dan dilengkapi dengan berbagai ayat Alquran, Hadits Rasulullah saw dan renungan yang akan membuat kita makin kagum terhadap kebenaran ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw dan keunggulan Alquran yang diturunkan oleh Allah SWT.
Tapi cukupkah semua itu? Cukupkah sampai pada kekaguman saja? Tidak. Kita harus berbuat lebih jauh dari itu, yakni mensyukuri segala nikmat Allah. Itulah yang ditegaskan oleh penulis di bagian akhir buku ini, yakni perlukah pamrih kepada Allah SWT. “Akhirnya kita menyadari bahwa kita merasa sangat malu dan tidak tahu diri bila selama ini kurang bersyukur atas segala nikmat-Nya. Bukankah setiap detik kita dikirimi bingkisan gratis berupa oksigen, sinar mentari, sinar rembulan, gravitasi, air, besi, dan nikmat lainnya yang tidak akan mampu menghitungnya.” (hlm 205) Buku ini ditulis dengan menggunakan gaya bahasa sains popular, sehingga mudah dipahami. Siapa pun perlu membaca buku ini, sehingga insya Allah akan bertambah kuat imannya, makin cinta Islam, dan pada akhirnya makin senang beramal saleh, termasuk di antaranya bersyukur kepada Allah SWT. (Republika 27 Februari 2009)