Sabtu, 12 September 2009

Tionghoa Muslim di Indonesia

Baru-baru ini dikisahkan betapa semaraknya Ramadan di Tiongkok yang penuh dengan kegiatan keagamaan, seperti diungkapkan Rizky Ramadhani Zamzam, remaja putri yang empat tahun ini belajar di Shanghai (Jawa Pos, 6 September 2009).

Nah, informasi tersebut mengingatkan penulis pada sejarah masuknya Islam ke negeri kita. Selama ini, masuknya Islam ke Indonesia selalu diidentikkan dengan penyebaran agama oleh orang Arab, Persia, ataupun Gujarat. Itu tidak keliru. Namun, sejarah tidak lengkap tanpa menyebut Tiongkok. Jadi, Islam masuk ke Nusantara, di antaranya lewat Tiongkok, bersama masuknya armada dari Dinasti Ming ke Palembang pada 1407, yang dipimpin Cheng Hoo. Islamnya bermazhab Hanafi.

Komunitas Awal
Laksamana Cheng Hoo membentuk komunitas Tionghoa muslim di Palembang yang sejak zaman Sriwijaya banyak didiami orang Tionghoa. Itulah komunitas Tionghoa muslim pertama di Nusantara.

Dalam melaksanakan tugasnya mencari hubungan dagang dan politik, Laksamana Cheng Hoo banyak menggunakan orang-orang Tionghoa Islam dari Yunan. Dengan sendirinya, soal keislaman ikut terbawa. Demi keperluan salat bagi umat Islam, di berbagai tempat didirikan masjid.


Salah satu sosok Tionghoa muslim yang patut dicatat di sini adalah Raden Patah. Menurut dokumen berusia lebih dari 400 tahun di Kelenteng Sam Po Kong Semarang, diperoleh kepastian bahwa Raden Patah -pendiri Kasultanan Islam Demak yang bergelar Panembahan Djimbun- berdarah Tionghoa.

Menurut buku Babad Tanah Djawi Prabu Brawidjaja VII, raja Majapahit menikahi putri saudagar Tionghoa muslim kawan baik Sang Prabu dan memiliki anak. Selanjutnya, anak itu tidak dibesarkan di lingkungan keraton, melainkan dibesarkan dalam komunitas Tionghoa muslim di Palembang.

Jadi, kerajaan Islam Demak dibangun komunitas Tionghoa yang menetap di Semarang. Raden Patah atau Al Fatah menjadi Sultan Demak pertama (1475-1518) dengan julukan Senapati Djimbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Saidin Panata Agama.

Yang mengejutkan, malah ada informasi kemungkinan delapan di antara sembilan Wali Sanga juga berdarah Tionghoa. Orang Indonesia mengenal Wali Sanga sebagai sembilan orang sakti yang pertama menyebarkan agama Islam di Jawa. Delapan di antara sembilan wali itu merupakan orang Tionghoa dengan gelar Sunan. Arti "Su" dari Suhu atau dialek Fukien Saihu, Guoyu (Mandarin) Szefu dan "nan"= selatan. Tentu saja, bisa diperdebatkan kebenarannya.

Salah satu jejak para wali tersebut bisa dilihat di Gresik yang merupakan kawasan muslim tertua di Jatim. Ketika itu, belum ada anggota muslimin pribumi. Pada 1451, Bong Swee Ho yang berasal dari Champa mendirikan pusat Islam di Ngampel untuk orang-orang Jawa dan Madura. Bong Swee Ho selanjutnya dikenal sebagai Sunan Ngampel. Putra Bong Swee Ho adalah Bong Ang, salah seorang Wali Sanga dengan nama Sunan Bonang.

Yang paling menonjol dalam komunitas Tionghoa muslim sejak dulu hingga kini adalah sikap santun dan pemahaman keislaman yang moderat, artinya tidak ekstrem. Memang etnis Tionghoa, sebagaimana ajaran Yin-Yang, selalu lebih mengedepankan keseimbangan atau harmoni dengan siapa saja.

Sikap itu tentu senada dengan Alquran yang tidak melegitimasi sedikit pun perilaku dan sikap yang melampaui batas, seperti "irhab", yakni tindakan berlebihan karena dorongan agama atau ideologi, sehingga berujung pada sikap membenarkan kekerasan atas nama agama.

Tidak heran, kita umat Islam -baik yang Tionghoa maupun bukan- terkejut saat ada orang yang memakai bendera Islam, tetapi tega membunuh orang lain dan dirinya dengan bom. Padahal, Islam mengajarkan bahwa membunuh satu orang sama saja dengan membunuh seluruh manusia. Anehnya, belakangan justru ada "tren" bom bunuh diri.

Penulis sepakat dengan Kepala Badan Litbang dan Pendidikan dan Latihan Departemen Agama HM. Atho Mudzhar bahwa Islam sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin) tidak hanya dipersempit dan direduksi, tetapi juga disimpangkan dan bahkan dibajak oleh beberapa orang Islam yang kerap mengklaim sebagai muslim sejati.

Akibatnya, kebenaran Islam sebagai agama yang santun dan damai tersisih oleh pemahaman keagamaan yang membenarkan kekerasan, ektremitas atau radikalisme.

Islam Itu Damai
Untuk itu, komunitas Tionghoa muslim tidak boleh tinggal diam. Bersama umat Islam lain serta elemen anak bangsa, kita harus proaktif memberikan pencerahan lewat beragam langkah deradikalisasi. Langkah seperti itu harus menjadi proyek nasional mengingat maraknya terorisme. Para agamawan tidak perlu menunggu diajak pemerintah karena kita harus proaktif bersinergi dengan berbagai kalangan untuk upaya deradikalisasi.

Deradikalisasi adalah upaya internal setiap penganut agama untuk masuk ke dalam dan setiap muslim yang meyakini radikalisme atau ekstremitas harus diajak dengan cara-cara yang santun untuk kembali bersikap mo derat, sebagaimana mainstream umat Islam di dunia. Semakin banyak yang terlibat dalam proyek deradikalisasi itu, seperti para orang tua atau pendidik di sekolah atau lembaga pendidikan, akan semakin baik.

Ramadan sebagai bulan penuh berkah bisa kita jadikan momentum menunjukkan bahwa Islam itu rahmatan lil alamin.Islam itu damai (aslama) dan orang-orang lain harus merasakan rahmat dan damai tersebut. (*)

*) Tomy Su, Koordinator Masyarakat Pelangi Pencinta Indonesia