Sabtu, 06 November 2010

Mendeteksi “Sumber” Bencana Perspektif Syar'i

H Nasrulloh Afandi, Lc, 
MA Anggota Pengasuh Pesantren Asy-Syafi'iyah

Kecanggihan teknologi seakan-akan tak berkutik (lagi) untuk sekedar mengurangi, apalagi membendung beragam estafeta bencana dan musibah yang tanpa kompromi setiap saat bisa dahsyat menimpa segala penjuru bangsa kita.

Hilangnya Adam air, pesawat Boeing 737 tipe 400 sebagai andalan dibanding tipe lain di bawahnya seperti 737-300 apalagi 737-200, belum lama ini, adalah contoh kecil dari keterbatasan ‘teknologi manusia’, para ahli dari luar negeri dikerahkan, namun belum mendapatkan titik terang insiden itu.

Ya Allah…, lengkap sudah bencana bangsa ini! Seolah-olah musibah ‘kecanduan’ untuk terus menggerus bangsa kita. Dari dasar laut (ada tsunami), dari daratan (ada gempa), dari puncak gunung (ada letusan), di sekeliling kita ada wabah infeksi dari binatang ke jasad manusia (flu burung dan sejenisnya). Juga ada kekurangan pangan (berupa busung lapar).

Belum hilang duka dari musibah-musibah tersebut, kini menggila terjadinya bencana dari alat-alat yang dihasilkan oleh ‘rekayasa’ manusia, kapal (tenggelam), pesawat (meledak), kereta api (terjungkal), termasuk dalam nominasi ini adalah luapan “lumpur panas” Lapindo yang tak jelas tanggung jawabnya, dan selusin musibah lainnya.


Memang, Allah SWT tidak butuh disembah ( QS.Ibrahim: 8 ). Namun dalam kondisi sedemikian memilukan ini, jika kita merasa sebagai manusia berperadaban (modern), tentu selain meningkatkan ‘pembenahan dan kewaspadaan teknologi’. Tak kalah signifikannya, sudah saatnya pula kita ‘waspada’ atau kembali insaf atas kebenaran dan keagungan Tuhan, dengan segala ‘rambu-rambu’-NYa yang telah lama blak-blakan ditabrak oleh banyak manusia abad ini.

Alangkah baiknya jika semua elemen bangsa ini dengan ikhlas kembali bersimpuh kepada Tuhan. Tidaklah cukup hanya ‘diwakili’ oleh komunitas ulama (saja). Meminjam istilah para ahli agama: ”Fafirru ila Allah”, mari kita semua menangis bertaubat di hadapan Allah SWT.

‘Detektor Bencana’

Benar, banyak hadits meriwayatkan bahwa kasih sayang Rasulullah SAW tidak mengizinkan jika umatnya akan didera bencana akibat banyak melakukan dosa, sebagaimana umat para Nabi terdahulu itu. Harapan-Nya: Siapa tau anak–cucu manusia kelak akan banyak yang bertakwa kepada Allah SWT.

Namun kita tak patut berbangga! Karena secara terpisah baginda Nabi SAW pun bersabda kepada Ummu Salamah (istriNya): “Jika segala bentuk kemaksiatan telah merajalela di dalam suatu bangsa (umat-Ku), maka Allah meratakan adzab dari sisi-Nya kepada mereka”.

Ummu Salamah bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah dalam kondisi (dilaknat) itu masih terdapat orang sholeh, taat beribadah?”

Rasulullah menjawab: “Ia, masih ada”.

Ummu Salamah bertanya lagi: “Lalu bagaimana mereka?”

Rasulullah pun menjawab: “Orang-orang shaleh taat beribadah yang terdapat pada kaum (bangsa) tersebut, juga turut ditimpa bencana, kemudian mereka akan mendapatkan ampunan dan keridhoan dari Allah". (HR. Ahmad dari Ummu Salamah isteri Nabi SAW. VI/ 304 atau no.26122, Al-Haitsami mengatakan, hadits ini rijalnya shahih).

Diantara esensi hadits tersebut. Kemaksiatan ‘segelintir’ orang, tidak hanya si pelaku yang menanggung akibatnya, tapi juga mampu menyebabkan datang dahsyatnya adzab bagi orang lain, bahkan seluruh bangsanya, yang taat beribadah sekalipun turut terkena imbasnya. Sungguh memilukan!

Contoh Nyata

Berbagai bencana, bentuk dan proses timbul hanya karena ‘diundang’ oleh manusia dengan ragam dosa-dosa yang dilakukannya sendiri, Al-Quran membuktikannya.

Kaum (selanjutnya disebut masyarakat) Nabi Nuh AS diadzab, ditenggelamkan dengan banjir bandang karena kekafiran mereka, hingga salah seorang anak Nabi Nuh sendiri (bernama Kan’an) pun turut tenggelam karena keinkarannya (lihat QS. Huud/11: 41-44).

Masyarakat Nabi Luth AS (termasuk juga isterinya), mereka homoseks (istilah anak sekarang ‘gay’), diadzab oleh Allah dengan dihujani batu panas dan buminya dibalik (Lihat QS. Huud/ 11: 82-84).

Masyarakat Nabi Syu’aib AS, di Madyan dihantam gempa hingga jadi mayat-mayat yang bergelimpangan karena kekafiran mereka dan curang dalam menakar dan menimbang. (Lihat QS. Al-A’raaf: 85-94).

Manusia zaman Nabi Ibrahim dirubah wujud menjadi monyet karena mensepelekan sholat(Jumat) demi menumpuk harta (Lihat QS al-Baqarah : 65).

Masyarakat “Tsamud” dihancurkan dengan petir, dan masyarakat ‘Ad dihancurkan dengan angin dingin sangat kencang (lihat QS al-Haaqqah/69: 4-7).

Fir’aun (Ramsis 11) dan kroni-kroninya yang kafir telah dihunjami bencana berupa taufan, belalang, kutu, kodok, dan darah; kemudian minta agar dimohonkan oleh Nabi Musa AS untuk dilepaskan dari adzab itu. Setelah dilepaskan oleh Allah adzabnya, lalu mereka kafir lagi, bahkan sang Firaun tetap memproklamirkan diri sebagai ‘Tuhan’. Maka Allah tenggelamkan mereka di dasar laut Merah. (Lihat al-A’raaf/ 7:133-136).

Iblis dilaknat oleh Allah SWT, dikeluarkan dari surga karena tidak mau mengikuti perintahNya, untuk bersujud kepada Nabi Adam AS. ( lihat al-Hijr/ 15: 34-36).

Masyarakat Nabi Hud AS mendustakan Nabinya, maka mereka dibinasakan oleh Allah. (lihat as-Syu’ara’/ 26: 139).

Masyarakat Nabi Shaleh angkuh, kafir, dan menyembelih unta mukjizat yang tidak boleh diganggu, maka dilanda dahsyatnya bermacam-macam adzab (Lihat al-A’raaf/ 7:77-79).

Contoh di atas, hanya sebagian dari data atau ‘dokumen bencana’ yang terdapat di dalam al-Quran, dan masih banyak contoh lainnnya. Belum cukupkah contoh-contoh itu sebagai pijakan introspeksi keimanan kita? Bukankah kemaksiatan dan bentuk bencana yang terjadi pada masyarakat terdahulu itu sudah banyak terjadi dan melanda bangsa kita, meski(bencana) lain bentuknya?

Pun di zaman Rasulullah Muhammad SAW(Nabi kita), umat Islam kocar-kacir dalam peperangan di gunung Uhud. Karena mayoritas Muslimin waktu itu tak mengindahkan(strategi perang) Baginda Nabi. Sehingga Hamzah sang paman Nabi SAW yang taat pun menanggung resiko terbunuh, adalah kronologis mirip dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah di atas tadi.

Wajah Bopeng

Bebarangan dengan estafeta dahsyatnya bencana. Hampir segala kemaksiatan yang pernah dilakukan oleh masyarakat (kaum) terdahulu yang mendatangkan bencana itu, anehnya segala ragam (kemaksiatan itu) terus bertambah menjalar kesegala sendi hidup dan kehidupan bangsa kita. Sungguh aneh!

Diantara contohnya. Free sex, Over dosis narkotika liar, kian akrab ‘bersahabat’ dengan berbagai lapisan usia penghuni negeri ini. Utamanaya kronis menjangkit komunitas generasi muda tak terkecuali mereka yang ‘fisiknya’ akrab dengan bangku institusi pendidikan. Persis zaman jahiliyah, sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW pun bersabda: “Bahwa maraknya zina adalah penyebab utama terjadinya malapetaka“(HR. Ahmad).

Perempuan Lia Eden telah lama mengaku sebagai ‘malaikat Jibril’, Abdurrahman pengikutnya mengaku reinkarnasi ‘Nabi Muhammad’. Bak regenerasi(tepatnya anak-cucu) Firaun, bukan? Meski belum ada yang memproklamirkan diri sebagai ’Tuhan’.

Sekarang juga banyak yang suka dengan sesama jenis. Pria dengan pria, wanita dengan wanita. Se, semua sudah kebalik-balik. Inikah reinkarnasi masyarakat Nabi Luth?

Illegal logging dan sejenisnya, alias banyak kerusakan akibat perbuatan tangan-tangan manusia, kian menjadi ’berita wajib’ bangsa kita (lihat QS. ar-Ruum/ 30: 41).

Manipulasi, korupsi dijadikan lahan utama menumpuk kekayaan oleh para penguasa. Rakyat menjerit (busung lapar) tak dihiraukan. Bak ‘Raja Qorun’, dengan kekuasan dan kekayaannya berlimpah(masih juga) serakah merampas sebutir perhiasan mas yang hanya dikenakan seorang anak yatim kelaparan, yang akhirnya oleh Allah SWT ia pun beserta istana dan segala kekayannya dijebloskan ke perut bumi(QS. al-Qashash/ 28: 76-82).

Astaghirullah al-Adzim! Alangkah indahnya jika kita bersama-sama memohon ampunan pada Allah SWT di segala situasi.

Yang juga tak kalah dasyatnya adalah, makluk bernama; Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme (Sepilis). Jika illegal logging merusak hutan, Sepilis merusak akidah umat. Barangkali semua contoh-contoh di atas itulah akibatnya.

Ya, sesuai ‘sportifitas keimanan’, bukankah seharusnya mendekatkan diri kepada Tuhan (Munajat), mari memohon ampunan (istighfar), berdoa atau berdikir dan amaliah ibadah lainnya.

Tidaklah hanya dilakukan ketika manusia dirundung tragisnya musibah, juga tidak pula harus dilakukan gegap-gempita di panggung terbuka, seperti istighotsah. Apalagi, jika ‘tangisan tobatnya’ diekspose oleh media massa dan disaksikan oleh banyak manusia.

Alhasil, setiap saat selayalnya kita harus selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan hanya karena sedang atau takut akan didera bencana atau dijangkit wabah. Labih bagus lagi, kita mulai sekarang juga!.

*Tulisan ini dibuat saat terjadinya bencana Tsunami Aceh dan meletusnya gunung Merapi beberapa tahun lalu, yang juga saat itu banyak terjadi berbagai bencana dan wabah Flu Burung, dan lain-lain. Jumat, 26 Januari 2007